Menyikapi Perbedaan Dalam Pandangan Islam

Oleh : Ust. DR. Saifuddi Amir

Menyikapi perbedaan memang mempunyai arti yang sangat luas,  apalagi menyikapi perbedaan pendapat di kalangan umat beragama itu sendiri baik mengenai hukumnya, tata cara di dalam melaksanakan ibadah dan yang lainnya.

Sering kali kita merasa bingung, bimbang dan bengong melihat begitu banyak perbedaan di kalangan ummat islam. Kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah, dan juga kita tidak tahu mana yang harus kita pilih dan menjadi panutan dalam hidup. Sehingga terjadi perpecahan di kalangan ummat Islam itu sendiri. Antara satu dengan beberapa kelompok lainnya saling mementingkan kelompoknya sendiri tanpa melihat persamaan di dalam Islam itu sendiri. Mereka mengganggap bahwa kelompoknya lah yang benar dan kelompok yang lain salah.

contoh, batalkah wudhu sesorang saat thawaf menyentuh kulit yang bukan mahrimnya, seseorang  yang bersentuhan kulit ketika thawaf atau dalam keadaan berdesak-desakan di tempat manapun, maka tidak membatalkan thawafnya dan juga tidak membatalkan wudhunya menurut pendapat yang paling shahih dari beberapa pendapat para ulama.  Di mana ulama berselisih dalam beberapa pendapat, apakah menyentuh kulit wanita yang bukan mahrimnya membatalkan wudhu atau tidak ?

Pertama, membatalkan wudhu secara mutlak. Kedua, tidak membatalkan wudhu secara mutlak. Ketiga, membatalkan wudhu jika menyentuhnya dengan syahwat.

Jikalau kita lihat dari perbedaan-perbedaan diatas semuanya yang berbeda hanyalah cara berpikir manusia di dalam menghadapi sesuatu, ketauhidan ummat Islam terhadap penciptanya tidaklah berbeda.“sesungguhnya perbedaan itu adalah rahmat”.

Bagaimana jadinya, jikalau kita melihat semua manusia itu sama, semua pohon itu sama, semua tanaman itu sama, semua rumah itu sama, semua tempat itu sama, semua apa yang ada di dunia ini adalah sama? Maka jawabannya adalah membosankan. Sesungguhnya ALLAH SWT maha mengetahui apa-apa yang tidak kita ketahui. Kembali lagi kepada judul kita yaitu menyikapi perbedaan dalam pandangan Islam tidak dari keberagaman cara berpikir manusia dalam menghadapi sesuatu dan juga keberagaman perasaan manusia dalam merasakan sesuatu, tetapi semuanya itu hanyalah bertujuan untuk ketauhidan kepada ALLAH SWT.

Lain halnya kalau kita berpendapat bahwa semua agama itu adalah sama dan bertujuan baik untuk manusia dan juga alam. Semua itu tidaklah benar, semua agama itu tidak sama, walaupun semua tujuan daripada agama adalah untuk kebaikan manusia dan juga alam

Wallahu a’lam bishawab.

Pemikiran Islam LIberal yang Menyesatkan

ImageSuatu hari seorang Dosen mengutarakan pendapatnya di tengah-tengah para Mahasiswa

Dosen: "Saya bingung. Banyak Umat Islam di seluruh dunia lebay. Kenapa harus protes dan demo besar-besaran cuma karena tentara amerika menginjak, meludahi dan mengencingi Al-Quran?
Wong yang dibakar kan cuma kertas, cuma media tempat Quran ditulis saja kok. Yang Qurannya kan ada di Lauh Mahfuzh. Dasar ndeso. Saya kira banyak muslim yang mesti dicerdaskan."

Meskipun pongah, namun banyak Mahasiswa yang setuju dengan pendapat Dosen liberal ini. Memang Qur'an kan hakikatnya ada di Lauh Mahfuz.

Tak lama sebuah langkah kaki memecah kesunyian kelas. Seorang Mahasiswa kreatif mendekati Dosen kemudian mengambil

Baca selengkapnya »

Apakah Ummat Islam Menghadap Ka'bah Untuk Menyembah Allah?

Kakbah adalah kiblatnya orang islam

Suatu hari ada si Si Fulan yang meragukan cara beribadah orang Islam. Ia menganggap bahwa orang islam menyembah sebuah kotak hitam, dan bukannya menyembah Allah, maka iapun bertanya kepada seorang ustadz.. 

Si Fulan: “Mengapa orang Islam menyembah kotak hitam?” 

Ustadz : “Umat Islam tidak menyembah kotak hitam, tapi menyembah Allah.” 

Si Fulan : “Bukankah orang Islam sholat menghadap Ka'bah, satu kotak yang berwarna hitam? Apakah Allah itu ada di dalam Ka'bah?”

  

Si Fulan : “mengapa tersenyum? Apa jawaban dari pertanyaan saya tadi Ustadz?” 

Ustadz : “hmm..

Baca selengkapnya »

Introspeksi Diri di Bulan Ramadhan

Shahabat yang mulia Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِيْنُ

“Apabila datang Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.”

Hadits di atas dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Shahih-nya kitab Ash-Shaum, bab Hal Yuqalu Ramadhan au Syahru Ramadhan no. 1898, 1899. Dikeluarkan pula dalam kitab Bad‘ul Khalqi, bab Shifatu Iblis wa Junuduhu no. 3277. Adapun Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih-nya membawakannya dalam kitab Ash-Shaum, dan diberikan judul babnya oleh Al-Imam An-Nawawi, Fadhlu Syahri Ramadhan no. 2492.

Pintu Kebaikan Terbuka, Pintu Kejelekan Tertutup..
Baca selengkapnya »

Adab-adab Berpuasa

Bagi orang yang berpuasa terdapat beberapa adab yang selayaknya dia jalankan, agar tercapai keselarasan dengan perintah-perintah syari’at dan terealisasi maksud pelaksanaan ibadah tersebut, di samping sebagai latihan bagi jiwa dan pembersihannya. Maka sudah seharusnya seorang yang menjalankan ibadah puasa untuk berupaya serius dalam merealisasikan adab puasa secara sempurna, senantiasa menjaganya dengan baik, karena kesempurnaan ibadah puasanya sangat tergantung dengannya, dan kebahagiaannya sangat terkait dengannya.

Di antara adab-adab syar’i yang harus dijaga oleh seorang yang sedang berpuasa adalah “

Pertama, Menyambut bulan Ramadhan dengan bangga, gembira, dan bahagia. Karena bulan Ramadhan termasuk karunia Allah dan rahmat-Nya kepada umat manusia. Allah Ta’ala berfirman :

( قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ )

Katakanlah dengan keutamaan Allah dan rahmat-Nya maka dengan itu bergembiralah kalian. (Yunus: 58)

Yaitu dalam bentuk :
Baca selengkapnya »