Lebih Cerdas dengan Berkata Jujur

Oleh :Kholili Hasib

Menurut seorang psikolog orang yang sering berkata tidak jujur (bohong), lambat laun menjadi kebiasaan yang sulit dihambat. Bila tidak berbohong terasa ada keberatan dalam jiwanya. Maka terbiasalah ia berdusta. Seolah jika tidak berdusta mulutnya terasa gatal.

Pertama kali seseorang berbuat dusta atau berbohong, biasanya ia akan merasa menyesal. Akan tetapi, ketika perbuatan bohong atau dusta itu sering dilakukan beberapa kali, ia akan merasa biasa saja, bahkan mulai pudar rasa penyesalannya.

Kebiasaaan ini akan merugikan pribadi dan agamanya. Misalnya, dalam pergaulan ia bisa dijauhi orang lain. Bagi agama, perbuatan itu berimplikasi pada kadar keimanan.

Seorang ulama bernama Syeikh Abu Sa’id al-Qarsyi pernah mengatakan, “Orang jujur itu adalah orang yang mempersiapkan diri untuk menghadapi kematian. Sehinga ia tidak pernah malu mengakui kelemahan dirinya.”



Sikap jujur akan mengisi energi ke dalam pikiran intelektualitas sekaligus spiritualtias. Sifat ini mampu memberi energi positif untuk pengembangan keilmuan dan intelektualitas. Lebih-lebih, bagi seorang ilmuan. Jujur, menjadi faktor kemajuan intelektualitasnya.

Peneliti sejati bukanlah yang selalu menjiplak karya orang atau mengutip secara tidak jujur. Kebiasaan buruk ini justru menurunkan derajat intelektualitasnya. Menjadi peneliti yang baik, mesti mengakui kelemahannya, jika tidak, dia tidak menghasilkan karya yang baik.

Pengakuan akan kelemahan inilah yang kadang kala tidak ringan dilakukan. Sebagaiman anasihat Syeikh al-Qarsyi, “seharusnya seorang ilmuan tidak malu jika kelemahannya diketahui.” Sebab, dengan terbukanya kelemahan, berarti akan ada kesempatan untuk memperbaikinya.

Sebaliknya jika dia tidak jujur mengakui kelemahan, namun tetap kukuh menutupi ke-jahilan-nya, maka pintu untuk mengembangkan diri menjadi pintar tertutup. Tak ada kesempatan untuk tingkatkan derajat keilmuannya karena merasa sudah intelek. Jadilah ia seperti katak dalam tempurung. Ketidak jujuran menghasilkan keangkuhan. Keangkuhan berakibat satisnya tingkat keilmuannya.

Baca selengkapnya »

Glamornya Hidup, Justru Buatku Tak Bahagia

Delapan tahun silam, kehidupanku tak ubahnya seperti anak alay. Anak yang lebay, suka kelayapan dan jarang pulang. Cara berpakaian juga sok keren, mengumbar aurat. Celana jeans pendek, oblong ketat dan rambut cak ungu adalah pilihanku. Hari-hariku,  kulalui dengan bermain band, jalan-jalan, clubbing atau nongkrong.

Semuanya berawal dari salah bergaul. Oh ya, saya memiliki paras cantik dan suara yang cukup bagus. Tak heran jika banyak orang yang berebut ingin jadi teman. Nah, suatu saat, saya diminta jadi vokalis band di sebuah acara teman kakakku. Padahal, band itu terdiri dari empat pria. Lagu dari The Cranberies Zombiketika itu yang saya bawakan. Para peserta pun terpukau. Hal itu membuatku hatiku membumbung tinggi. Baru kali ini mendapat pujian luar biasa.

Saya pun akhirnya membuat group band dengan tiga teman laki SMP saya yang diberi nama Xero. Lagu-lagu The Cranberries adalah lagu andalan yang selalu kami bawakan setiap kali manggung. Sejak itulah, saya menseriusi band itu dengan mulai belajar gitar dan kursus Piano.
Baca selengkapnya »

Al Quwwah Ar Ruhiyyah (Dorongan Spiritual)

“Al Quran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al Jatsiyah (45) : 20)



Simaklah kisah berikut ini.

Seorang ibu rumah tangga yang alumni IPB, Ir.Tri Mumpuni Wiyatno, bersama suaminya telah berkeliling nusantara melalui program Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohydro (PLTMH). Hanya satu visi dan misi yang ia bawa,”Hidup ini untuk ibadah dan memajukan serta memberdayakan umat.”

Dia telah menerangi desa dalam arti sebenarnya. Melalui kegigihannya, PLTMH tersebut kini sudah dapat dinikmati lebih dari 100 desa miskin di Indonesia. Program listrik bertenaga air itu benar-benar ramah lingkungan.

Targetnya, dalam sepuluh tahun ke depan, minimal separo desa di Indonesia akan mengalami kemajuan dan bisa memanfaatkan program yang lebih bersifat jangka panjang. Tidak hanya PLTMH saja, tetapi berlanjut dengan pemberdayaan masyarakat desa.

Sebagai langkah awal, masyarakat diajari mengelola listrik desa, termasuk bagaimana merawat fasilitas tersebut. Selain itu, mereka juga diajari cara mengelola uang hasil iuran warga. Tak Cuma itu, kemandirian ekonomi juga dianjurkan pada mereka. Kewirausahaan ditumbuhkan sesuai dengan potensi masing-masing desa, sehingga listrik swakelola desa ini berdampak ganda. Tidak hanya desa menjadi terang, juga kesejahteraan masyarakat desa juga meningkat.

Ketika ditanya,”Apa tidak banyak hambatannya?”
Baca selengkapnya »

Kisah Anak Kecil yang Bertransaksi dengan Alloh

Bismillahirrohmaanirrohiim

Wahai orang yang memeluk dunia…dari panasnya api neraka. Dunia ini tidak kekal, siang dan malam penuh dengan kepalsuan dan kesia-siaan. Hendaklah kamu meninggalkan dunia yang membelenggumu. Sehingga kami bisa segera memeluk surga firdaus. Jika kamu mencari surge yang abadi untuk kamu jadikan sebagai temapt tinggal, maka hendaknya kamu jangan merasa aman dari panasnya api neraka.



Dikisahkan oleh Syaikh Abdul Wahid bin Zahad Rahimahullah,”Suatu hari ketika kami berada di sebuah majelis, kami memutuskan agar mempersiapkan diri untuk berperang. Saat itu aku membaca ayat-ayat Al Quran. Kemudian dalam majelis itu ada seorang laki-laki yang membaca ayat yang berbunyi,

‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min,diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh.’ (QS. At Taubah : 111)



Setelah itu, ada seorang bocah remaja yang usianya sekitar 15 tahun berdiri dan menemuiku. Dia telah ditinggal mati ayahnya dan meninggalkan warisan untuknya dalam jumlah yang sangat banyak. Lalu dia berkata,


‘Wahai Syeikh Abdul Wahid, sesungguhnya aku bersaksi dihadapanmu, aku berani menjual jiwa dan hartaku dengan surga.’
Baca selengkapnya »

Hikmah Ber Shaf Shaf


Kadang kita temui dalam shalat berjamah, seorang imam langsung saja bertakbir tanpa terlebih dulu memperhatikan barisan di belakangnya, tak peduli apakah barisan makmumnya masih acak-acakan atau tidak.


Atau juga banyak kita temukan, kaum Muslim shalat berjamaah namun ia tak betul-betul mengerti tata-cara shalat yang benar. Hatta, urusan merapatkan dan meluruskan shaf. Fenomena tersebut merupakan bukti bahwa sebagian kaum Muslimin masih menganggap urusan merapatkan dan meluruskan shaf sebagai hal yang sepele dan hanya membuang-buang waktu saja. Akibatnya, masalah ini kurang mendapat perhatian serius.


Sikap seperti ini tentu saja keliru. Karena meluruskan dan merapatkan shaf merupakan bagian dari sempurnanya shalat berjamaah. Sebelum melakukan shalat berjamaah,  Rasulullah selalu memperhatikan jamaahnya. Ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang artinya, "Rasulullah, apabila telah berdiri di tempatnya untuk bershalat, tidaklah terus bertakbir, sebelum melihat ke kanan dan ke kiri menyuruh manusia menyejajarkan bahu, seraya bersabda, 'Janganlah kamu maju mundur, yang menyebabkan maju mundurnya jiwa-jiwa kamu'." (Riwayat. Ahmad).

Baca selengkapnya »